Modernisme

Adoh ratu cedak watu jauh dari raja dekat dengan batu. Kalimat tersebut cocok untuk menggambarkan eksistensi Banyumas atau wong Banyumas. Secara politik, tak pernah ada raja yang berkeraton di wilayah yang dikelilingi pegunungan ini, yang ada hanya adipati. Banyumas sekarang kabupaten di Jawa Tengah—menjadi sebuah daerah perdikan dan negeri ”mancanegara”, baik pada masa Majapahit dan Mataram (Jawa) maupun Pajajaran (Sunda). Kondisi tersebut membuat wong Banyumas berkesempatan mengembangkan budaya sendiri yang khas dan unik. Satu unsur budaya yang lekat di masyarakat Banyumas dan masih bertahan hingga kini adalah dialek bahasa ngapak-nya. Konon, dialek ngapak ini adalah bahasa Jawa murni atau bahasa Jawadwipa. Banyumas juga kaya akan kesenian khas, seperti ebeg, cowongan, lengger, genjringan, ujungan, udhun-udhunan, begalan, memedi sawah, dan kentongan. Seni-seni tersebut agak berbeda dengan seni budaya yang berkembang di Jawa maupun Sunda. Namun, derasnya pengaruh modernisme kini mulai mengikis eksistensi budaya-budaya lokal tersebut. Pentas lengger, ebeg, dan kenthongan kini mulai jarang terlihat.

Baca lebih lanjut

Iklan

Maulid

Maulid  merupakan salah satu peringatan hari besar Islam yang tergolong istimewa bagi komunitas muslim Indonesia. Selama 12 hari di awal bulan Rabi”ul Awwal (Mulud kata orang Jawa), sebagian umat Islam melakukan “napak tilas” kehidupan Nabi Muhammad SAW melalui pembacaan sejarah dan biografinya. maulid_dalam

Sejarah yang lebih banyak berupa sanjungan dan pujian itu, merupakan simbol takzim umat Islam kepada nabi pembawa risalah Islam yang lahir pada 12 Rabi”ul Awwal Tahun Gajah (571 M). Selain pembacaan al Barjanzi dan kitab sejenisnya al-Diba” dan al-Burdah) sepanjang bulan ini dan seringkali meluber pada bulan berikut, umat Islam menyelenggarakan beragam kegiatan, seperti pengajian, dimeriahkan pula dengan lombalomba Islami.

Di Keraton Solo atau Yogyakarta, peringatan kelahiran nabi akhir zaman ini mewujud dalam bentuk Gerebek Mulud atau Sekatenan.  Maulid adalah kekayaan budaya umat Islam. Sebagai budaya, ia harus dilihat menurut kebeningan batin. Mauludan hanyalah sarana untuk syiar Islam. Mauludan merupakan simbol dari ekspresi kecintaan umat kepada nabinya. Tentu semua sepakat, seluruh praktik budaya yang mengarah pada syirik harus dibersihkan. Cara yang terbaik bukan melarang Mauludan, tapi menambah isi Islam dalam peringatan tersebut. Katakanlah, al-Barjanzi tidak sekadar disenandungkan, tapi juga dipahami artinya dan diimplementasikan dalam keseharian.