Logo Purworejo

Arti Logo Kabupaten Purworejo
Gambar

Baca lebih lanjut

Iklan

Peta Industrialisasi di Indonesia

Sebelum Indonesia mengkaji fenomena ekspornya, hal penting yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi arah strategi pengembangan industri dan mendiagnosa struktur pasar ekonomi Indonesia. Ini perlu dilakukan karena tujuan pembangunan ekonomi Indonesia adalah menciptakan terjadinya transformasi ekonomi. Dari titik inilah muncul tiga persoalan struktural dalam ekonomi Indonesia, yakni :
1. Belum dirumuskannya jenis industri dan produk yang hendak dikembangkan dan dijadikan andalan di masa depan secara tuntas. Selama ini, perdebatan mengenai kedua hal tersebut masih dilakukan secara kurang transparan dan melibatkan banyak elemen masyarakat. Akibatnya, strategi industrialisasi lebih banyak didekati dengan subjektivitas daripada mempertimbangkan aspek-aspek rasional sesuai cerminan kebutuhan ekonomi nasional.
2. Sistem produksi dan distribusi ekonomi nasional masih mengandalkan pola proteksionisme sehingga menimbulkan distorsi pasar. Ini erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah Orde Baru, yaitu substitusi impor. Dalam perkembangannya, strategi SI justru menyebabkan iklim monopoli dalam pasar ekonomi Indonesia. Strategi SI tidak direncanakan secara selektif, sehingga banyak yang memanfaatkan kebijakan tersebut untuk mengeruk keuntungan secara berlebih tanpa proses usaha yang efisien. Apalgi kebijakan-kebijakan khas rezim SI tidak segera direvisi ketika industri menunjukkan prestasi yang tidak sesuai.
3. Keberadaan sektor pertanian di Indonesia sangat memperihatinkan, dimana disamping kontribusinya terhadap pendapatan nasional telah sangat kecil, juga tidak menunjukkan adanya proses modernisasi dan keterkaitan dengan proyek industrialisasi yang dikerjakan. Ini diakibatkan adanya perbenturan ide tentang strategi industrialisasi yang akan dijalankan dan perbedaan kepentingan politik antara pengambil kebijakan (penguasa) dengan pelaku dunia usaha (pengusaha). Baca lebih lanjut

BUDAYA HEDONISME

Budaya merupakan suatu perilaku, tindakan atau kebiasaan yang dilakukan masyarakat dan biasanya berkembang menjadi sebuah gaya hidup masyarakat yang memilikinya. Budaya juga dapat dikatakan sebagai karakter suatu kelompok orang atau masyarakat. Berbagai bentuk budaya yaitu sistem agama dan politik, gaya hidup, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Dalam ilmu kependudukan, budaya merupakan sebuah hal penting yang tidak dapat dipisahkan dengan penduduk. Kaitan budaya dengan perencanaan wilayah sangatlah mempengaruhi kebutuhan masyarakat yang mendiaminya. Apabila masyarakat perkotaan yang budayanya konsumtif maka sarana prasarana yang dibutuhkan pastilah yang berhubungan dengan perdagangan dan jasa seperti mall, berbeda dengan masyarakat pedesaan yang budaya tradisionalnya masih kuat seperti tradisi bertani secara turun temurun memerlukan sarana prasana yang dapat mendukung hal tersebut seperti koperasi. Baca lebih lanjut

Emansipasi

Untuk saat ini bisa dibilang istilah emansipasi wanita menjadi tolak ukur disetarakannya hak kaum hawa dengan adam. Jika dirujuk pemicu utama tuntutan ini adalah pandangan miring terhadap peran wanita dan terbatasnya ruang gerak mereka. Atau berdasarkan kasus yang menimpa Kartini misalnya, disebabkan oleh pembatasan hak wanita dalam pendidikan, otoritas, kedudukan di muka hukum (legalitas), dan banyak lainnya. Pandangan miring terhadap wanita ini sejatinya tidak berdasar, apalagi dilihat melalui kacamata Islam. Bahkan kehadiran Islam sendiri salah satunya adalah untuk membebaskan ketertindasan yang dialami kaum hawa. Sosok wanita dalam Islam sangat berharga untuk dinilai. Sampai-sampai Nabi Muhammad menyanjungnya dengan ungkapan “sebaik-baiknya perhiasan dunia”. Namun tunggu dulu, kaum hawa jangan bangga dulu, sanjungan itu hanyalah untuk wanita yang berpredikat “sholihah”. Baca lebih lanjut

“Nguwongke Wong”

PENGEMBANGAN organisasi melalui manajemen sumberdaya manusia atau akrab dikenal Human Resources (HR) tidak hanya melulu dari konsep teori barat namun bisa dilhami dari kearifan lokal budaya Jawa. Sebut saja, konsep ”nguwongke wong” (memanusiakan manusia) dan ”sugih tanpo bondo” (kaya tanpa harta benda) yang menurut guru besar Fakultas Psikologi UGM Prof Dr Djamaludin Ancok, sangat cocok dan relevan dalam pengembangan organisasi modern yang berkembang sekarang ini. ”Manusia bukan lagi dianggap aset dalam konsep sebuah organisasi, tapi bagian penting dari organisasi. Menciptakan manusia itu semakin bersumberdaya dan semakin bermakna,” katanya dalam diskusi ”Manajement Forum, The future of HR” Baca lebih lanjut

Tradisi Ngabuburit yang Salah Kaprah

FENOMENA RAMADAN

Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda dengan akar kata “burit” yang artinya sebuah representasi waktu yang menunjukkan mulainya malam hari. Nah, sekarang istilah ngabuburit sudah dipakai oleh semua orang yang mengartikannya sebagai kegiatan mengisi waktu sampai tiba saatnya berbuka puasa.  Bahkan tren ini menjadi sebuah tradisi yang tak bisa dilepaskan dari bulan Ra*ma*dan. Beragam kegiatan dila*kukan selama ngabuburit, mulai dari kegiatan positif hingga kegiatan negative.  Meski tak ada kaitannya dengan budaya Minangkabau, toh istilah ngabuburit begitu akrab ditelinga masyarakat. Bahkan, bagi sebagian remaja belum merasa senang jika belum ngabuburit. Di kota Padang, misalnya para remaja menunggu waktu buka puasa dengan jalan-jalan sore atau sekedar duduk di pinggiran Pantai Padang. Sekilas memang tak ada yang salah dengan kegiatan ini, tapi jika diper*hatikan lebih saksama lagi terlihat aktivitas ngabuburit sering digunakan para remaja untuk berduaan dengan lawan jenisnya di tempat yang romantis dan agak sepi.

Fenomena ngabuburit saat Ramadan sudah memasyarakat, terutama pada anak-anak muda perkotaan. Pada saat sore tiba mereka keluar rumah dengan berkendaraan motor berbon*cengan dengan pasangannya atau bergerombol dan men*datangi tempat-tempat ramai dengan alasan menunggu waktu buka puasa. Padahal bukan itu sebenarnya hakekat ngabuburit yang dijalani oleh masyarakat Sunda tempo dulu. Baca lebih lanjut

Gedung Baru dan Kapasitas Anggota DPR

Polemik pembangunan gedung baru DPR sepertinya tidak berkesudahan, meski sudah ditentang oleh banyak pihak sejak beberapa bulan lalu, namun rencana pembangunan itu terus jalan. Dan ketika ditentang lagi, maka rencana itu menjadi ditimbang-timbang lagi. Begitu seterusnya, muncul, tenggelam, dan kemudian muncul lagi. Pembangunan gedung baru direncanakan, menurut Ketua DPRRI Marzukie Alie, dilandasi bahwa rencana itu merupakan rencana DPR periode sebelumnya. Pembangunan itu disebut untuk lebih mendukung peningkatan kerja anggota DPR. Gedung yang selama ini, Gedung Nusantara I, dirasa sudah tidak mencukupi untuk bekerja.

Kalau dilihat secara fakta dan hitungan, Gedung Nusantara I, memang terjadi kelebihan beban. Dihitung dari kapasitas memang terjadi kelebihan penghuni, karena anggota DPR saat ini memiliki staf ahli 2, dulu 1. Ditambah sekretaris 1 berarti dalam satu ruang ada 4 orang, satunya lagi anggota DPR itu sendiri. Total penghuni Gedung Nusantara I ada sekitar 2240 orang, itu belum ditambah dengan staf ahli fraksi, office boy, security, dan staf ahli tambahan lainnya dari anggota DPR. Tentu Gedung Nusantara I akan semakin kelebih beban apabila staf ahli masing-masing anggota sebanyak 5 orang. Baca lebih lanjut